“ibu kok nangis !” sapa Rizal yang melihat butiran embun di pipi sang
ibunda. “ada apa bu ?” lanjutnya sambil mendekati ibunda yang duduk di
dekat telepon. “apa ada hal yang menyedihkan sehingga membuat ibu harus
menangis” tanyanya lagi .
” A … bantuian Ririn donk bikin acara buat seminar bulan depan di
kampus !” pinta adik Rizal tiba tiba . ” A.. kok diam aja sih “sambil
mendekati Rizal yang sedang bersimpuh di depan ibunya.
“hus…. diem… ibu lagi sedih nih..” ungkap Rizal sembari meletakkan
telunjuknya di bibir sang adik ” ibu sedih …” tanya Ririn ” bu kenapa …
kok sedih ” lanjutnya sambil duduk di sebelah kanan sang bunda.
Mendengar pertanyaan yang bertubi-tubi sang ibu mulai mengangkat
kepalanya dan tersenyum ” ibu tidak sedih kok, tapi bahagia. Tadi
barusan ibu dapat kabar kalau Rahma sepupu kalian sudah melahirkan”
lanjutnya dengan air mata terus mengalir.” Tapi kenapa sampai menangis
gitu bu …” tanya Rizal penasaran.
“iya bu kenapa … kayaknya ibu menyembunyikan sesuatu !” timpal Ririn manja
“ibu hanya sedih memikirkan nasib ibu…. ibu kadang berpikir kayaknya ibu
tak akan mengalami menggendong cucu seperti ayah kalian.” Ungkapnya
sambil mengenang kematian suami tercinta 3 tahun lalu.
Puluhan tiang listrik serasa jatuh serempak di kepala Rizal, ia sadar
kalau Ucapan tersebut bukan sekedar ucapan biasa, tapi mengandung
ma’na, dan sindiran baginya, karena ia anak pertama dan sudah berkepala
tiga namun tak kunjung menikah.
Hening suasana yang tercipta tak ada satu pun yang berani angkat
bicara apalagi Rizal yang merasa amat berdosa. Air mata sang ibu yang
makin tak bisa di bendung, hanya membuat kesunyian bertambah sepi. Ririn
yang biasa manja dan cascescos hanya bisa diam sambil mengeringakan
luapan air mata sang ibu dengan sapu tangan..
“bu… Rizal minta maaf !, Rizal sadar … dan tahu apa maksud ucapan ibu. Tapi….” lanjutnya terbata-bata
“tapi kenapa zal, kamu takut karena kamu belum kerja dan belum
berpenghasilan. Nak, kalau itu yang jadi alasan, kamu jangan kuatir
karena uang pengsiunan ayahmu masih cukup untuk memberi makan 2- 3 orang
lagi” sambil menahan tangis
“ia .. Aa jangan kuatir yang penting Aa bisa bahagiakan ibu, lagian
kata Aa juga kan rizqi itu Allah yang ngatur ” sambung Ririn
“sebenarnya bukan hanya itu masalahnya …. ” sahut Rizal
“Nak, apapun alasanmu, itu sebenarnya tak masuk akal ” potong sang ibu
“kalau alasanya karena belajar belum beres, menikah justru akan
memberikan kamu semangat untuk lebih bertanggung jawab akan kewajiban
kamu selaku seorang lelaki, Nak ibu mohon! ibu kadang sedih kalau denger
tetangga bertanya.. kapan sih nak Rizal menikah ?. nak, ibu mohon…. !”
lanjutnya sambil terus menangis.
Tangisan sang ibu kali ini betul-betul membuat Rizal tak berkutik, tak
satu hurup pun keluar dari mulutnya. Diam, sepi, sunyi. Hanya tangisan
datar sang ibu yang menghiasi kensunyian
“insya Allah, Rizal akan usahakan secepatnya. Tapi Rizal minta ibu untuk
tidak sedih dan jangan pernah berhenti mendoakan Rizal ” ungkapnya
“nah gitu donk! ikhwan sejati, awas jangan lupa berdoa dan istikhoroh.
Lagian kan nggak etis, masa Ririn harus ngedahului ” Ririn. Mencoba
menghibur
******
Pagi jum’at itu cukup indah, perlahan-lahan sinar mentari mulai
menyelimuti seluruh alam. Seperti biasa, Rizal duduk di kursi santai
depan rumah sambil memandang ke halaman yang tidak begitu besar. Baginya
hari jum’at merupakan hari yang paling indah. Sehingga ia lebih memilih
kumpul bersama keluarga dibanding menyibukkan dirinya dengan kegiatan.
“A, gimana do’a dan Istikhorohnya udah kan ?” tanya Ririn
mengejutkan pandangan kosongnya. ” Udah… tapi nggak ada tanda tuh …!”
jawabnya singkat
“masak sih, di mimpi gimana, barangkali lihat sesuatu yang bisa dijadikan isyarat ?”.
“ada sich! Namun aa nggak yakin kalu itu isyarat. Aa, semalam bermimpi
ketemu kamu di jalan, terus kamu perkenalkan temen kamu ke Aa, tapi aneh
wajahnya samar nggak jelas yang ada cuman jilbab ungu berlukiskan bunga
dan kerudung hitam besar”
“terus ada isyarat lainya tidak ?”
“nggak ada tuh, tapi kayaknya Ririn kenal banget soalnya Ririn sambil sandaran segala ke dia”
Sejenak Ririn berpikir, Terkadang ia senyum sendiri seperti mendapat
sebuah jawaban telunjuknya yang tak semanis permen loli ia jadikan
mainan gigi-gigi depanya.
“wey …. jangan senyum-senyum sendiri donk … Aa takut nih ”
“emang Ririn hantu apa !” jawabnya kesel
“bukan AA takut hantu…tapi takut berkunjung ke rumah sakit jiwa!”
“ah … dasar !. eh A, kayaknya Ririn kenal orang itu ? ”
“ah yang bener, siapa ? ”
“Mbak Fiyya, yang sebulan kemarin menyatakan cintanya ke Aa dan siap
untuk menjalin rumah tangga ke Aa!. Masa lupa sih, kan Ririn yang ngasih
suratnya ke Aa waktu malam itu ”
Sebuah bayangan muncul di benak Rizal, bayangan sebulan lalu ketika ia
mendapat sepucuk surat dari seorang akhwat jurusan akuntansi tahun 3,
menawarkan dirinya untuk dinikahi.
“A, udah langsung ajah….Ririn yakin kok kalau dia orangnya”
“Urusan nikah itu bukan urusan sehari dua hari neng! Tapi seumur hidup,
jadi kalau salah dalam tahap awal bakal sengsara seumur-umur” rizal
menjelaskan.
” Aa. Ragu denganya karena belum kenal dekat ?”
“kalau iya, ngggak salah khan ? ”
“Aa pingin tahu apanya, tanya aja ke Ririn langsung, orang suka bareng
terus kok!. Nih! Ririn kasih tahu, nama lengkapnya Hafiyya Ria Maryam,
lulusan pesantren, mantan ketua LDK putri di kampus, pinter, cantik,
lembut, keibuan, suka ngisi daurah, sederhana dan lain-lain, dan
sebagainya, dan kawan-kawan ”
“pokoknya tak usah khawatir … insya Allah 75 % syarat wanita sholehah
telah terpenuhi … kalau alasanya Aa tidak cinta, jangan terlalu
dikhawatirkan karena cinta yang datang setelah menikah akan lebih
langgeng.” Sambungnya menyemangati
“kata siapa ….?”
“masa dah pikun sich? kan Aa sendiri yang ngomong waktu nyeramahin Ririn
tentang pacaran. Gimana mau nggak … kesempatan itu tak datang dua kali
lho”
“emang Aa cocok gitu sama dia”
“pokoknya jawab dulu iya apa tidak, soal kecocokan itu nomor 3 ”
“kecocokan kok nomor tiga ..?”
“A, tidak semua kecocokan itu berasl dari sebuah kesamaan, justru
kecocokan akan lebih terasa ketika timbul dari sebuah perbedaan, karena
ketika timbul perbedaan diantara dua, akan ada saling pengertian yang
menghasilkan saling menutupi dan lahirlah kecocokan.” Ririn mencoba
menceramahi
” udah pokoknya tinggal bilang yes or not !” pintanya
“khan bukan ibu aja yang pingin gendong cucu Ririn juga pingin gendong ponakan lho..” sambungnya sambil tersipu.
“ayo donk cuman bilang iya aja kok sulitnya minta ampun…” pinta Ririn memohon
“ntar Ririn bantu ” lanjutnya kesal karena sang kakak tidak juga menyahut.
“iya iya, tapi Aa minta satu syarat ..!”
“apa syaratnya ?”
“jangan bilang dulu ke ibu nyah soalnya ini masih dalam tahap pertama pokoknya sercuit antara kau dan aku OK !”
” OK Bos … pokoknya beres ”
*****
Ruangan itu emang kecil dan sederhana, tapi hal itu tak membuat para
penghuninya males dengan kebersihan di dalamnya. Apalagi kesibukan
mereka yang selalu jadi singa podium, yang secara tidak disadari
kesibukan tersebut telah memberikan kekuatan untuk terus jadi singa
yang disegani dan selalu menjadi contoh.
“Sekretariat Ikatan Remaja dan Pemuda Islam “. sebuah tulisan bercat
biru dengan hurup besar menjadi penghias di halaman ruangan kecil itu..
“assalamualaikum ” sapa rizal kepada penghuni ruangan .
“waalakium salam ..” jawab seluruh penghuni kompak.
” akh … tumben telat kemana aja…” tanya amri
“afwan akh, tadi ana ada perlu dulu sedikit. Emang ada apa ?”
“enggak, tadi ada dudung kesini cuman karena kelamaan nunggu antum
akhirnya ia pulang lagi, terus ia pesen supaya ngasih surat ini ke
antum.” Sembari ngasih amplop
“Kak Rizal ana tunggu kedatangan antum hari jum’at depan jam 08.00 pagi
untuk ngisi khutbah nikah di pernikahan ana ” bunyi isi surat tersebut.
“alhamduluillah …. ” ungkapan syukur keluar dari bibir Rizal
“ada apa akh ?” tanya Denis dan Amri kompak yang dari tadi di depan
komputer “Dudung ngasih kabar kalu 6 hari dia akan menikah terus nyuruh
ana tuk ngisi khutbah nikah di pernikahanya!”
” kok bilang alhamdulillah, honornya gede yah..!” tanya Amri tersenyum
“bukan itu, ana cuman salut & bangga dengan tekadnya untuk nikah padahal dulu ia adik kelas ana”
“wah gawat kedahuluan lagi donk !” ungkap Denis sambil tertawa
“bukan kedahuluan tapi didahului ” ungkap Alfi yang dari tadi serius baca Sabili
” maksud antum apa ?” tanya rizal
“urusan nikah itu kalau kita sudah pantas disebut Syab, hanya
membutuhkan satu hal yaitu keberanian, keberanian untuk hidup berumah
tangga sekaligus keberanian untuk menghadapi ratusan problematika baru
yang ada di dalamnya”
“tapi kan taqdir Allah juga menentukan!”
“memang betul, tapi kalau antum diam seribu bahasa tak mau melangkah dan
berusaha, sampai kapan pun antum nggak bakalan menikah. Antum jangan
berpikir kalau nikah itu bagaikan hujan yang bakal turun tanpa dipinta
dan bagaikan angin yang bakal kita dapat tanpa bersusah payah dulu.
Perkembangan dunia yang tanpa arah, telah membuat manusia kebingungan
terutama para pemuda. Secara tidak disadari arah yang tak jelas ini
telah menanam sebuah rasa takut di dalam dada para pemuda. Takut untuk
melakukan sebuah kebaikan. Kebaikan yang bukan hanya untuk orang lain,
malah untuk dirinya sendiri pun bingung. Dan diantara yang termasuk di
dalam kebaikan tersebut adalah menikah”
Ratusan tiang listrik terasa kembali jatuh tepat di kepalanya, ungkapan Alfi betul betul telah memojokan dirinya.
“dan antum sepertinya termasuk pemuda yang tertanam ketakutan
tersebut. kami kadang heran dan bingung dengan sikap antum dalam hal
ini. Antum seolah menganggap kalau hal ini bukan sebuah pondasi dalam
da’wah. Padahal ana yakin kalau antum lebih tahu, bagaimana posisi dan
kedudukanya dalam Islam terutama dalam da’wah.akh, kami mohon
pikirkanlah hal ini ” tambah Alfi kesal yang dari dulu selalu
menasihatinya untuk segera menikah.
hanya kebisuan yang menghias wajah Rizal, tak ada satu kata pun yang
keluar dari mulutnya untuk membantah ucapan tersebut. Ia sadar akan hal
itu, apalagi mengingat umurnya yang sudah kepala tiga terlebih posisinya
yang selalu jadi senior.
Kembali terbayang wajah sang bunda yang memintanya untuk segera
menikah dan wajah sang adik yang kadang memanggilnya dengan Telmi ;
telat menikah.
*****
“Tok.. Tok.. Tok.. A boleh ganggu tidak ” suara Ririn dari luar kamar
membuyarkan konsentrasi Rizal yang dari tadi di depan komputer.
“oh… silahkan masuk tuan putri, nggak dikunci lho!”
segera Ririn masuk kamar lalu duduk di atas kasur samping meja komputer.
“ada apa Rin, tumben kayaknya serius banget …” tanya Rizal sambil pandangan tetap ke arah komputer
“gini A !” Ririn mulai bicara
“gimana ?” tanya Rizal.
“lihat sini donk, masa ikhwan sejati kalau ngomong belakangin orang ” Ririn kesal
“khan godul bashor ” guyonya
“jadi Aa dah anggap Ririn bukan adik kandung lagi yah ? khan Ririn muhrim, masa Ririn harus ceramah dulu tentang muhrim sich !”
“baik nyonya maaf ! jadi gimana?” sambil memalingkan mukanya dari arah komputer.
“gini A, hari sabtu kemarin setelah kesepakatan kita, Ririn ketemu mbak
Fiyya terus kita ngobrol banyak tentang kegiatan dan yang lainya,
termasuk masalah Aa dan keinginan Aa untuk menikahinya. Tapi waktu itu
mbak Fiyya bilang kasih mbak waktu yah untuk berpikir. Nah terus, tadi
Ririn ketemu lagi sama beliau lalu ngasih amplop ini katanya buat Aa”
sembari menyerahkan amplop berwarna merah jingga.
“Aa baca, resapi ma’nanya lalu nanti kasih tahu Ririn yah? Ririn mau
mandi dulu belum mandi nih dari siang” ungkap Ririn sambil berlalu
meninggalkan sang kakak.
*****
kak Rizal …. ribuan macam perasaan, saat ini menyelimuti hati Fiyya,
di satu sisi Fiyya senang, bahagia, gembira karena setelah sekian lama
menunggu, kerasnya batu karang yang menggumpal di hati kakak akhirnya
hancur juga, Fiyya harap perasaan yang saat ini menyelimuti hati kak
Rizal bisa dipertahankan atau jangan sampai ada batu lain yang
menggantikan kedudukan batu yang telah hancur tadi.
Kak Rizal ….. selain perasaan bahagia yang hinggap di hati Fiyya, Fiyya
pun sedih, kecewa dan marah. Kesedihan yang jauh lebih besar dari rasa
bahagia yang menyelimuti hati ini. Iya …. dan memang lebih besar lagi.
Fiyya sedih kenapa nggak dari dulu kak Rizal mengatakan apa yang saya
dengar dari Ririn, kenapa nggak dari dulu Aa menyatakan apa yang Ririn
nyatakan pada Fiyya, kenapa nggak dari dulu…. kenapa… kak… kenapa?
Kak … Fiyya bingung apa yang harus Fiyya katakan kepada kakak, Fiyya
takut ucapan Fiyya akan membuat ponggahan batu baru yang menutupi hati
kakak, Namun Fiyya sadar kalau bagi Fiyya nggak ada pilihan lain selain
mengungkapkan sejujurnya kepada kakak, karena Fiyya yakin kedewasaan
Kakak akan lebih menuntun kakak untuk berbuat yang lebih bijak.
Kak ….. tepat hari jum’at kemarin, satu hari sebelum adik Ririn
menceritakan semuanya. Sebuah keluarga datang ke rumah Fiyya, setelah
sedikit basa basi akhirnya mereka mengutarakan kedatangan mereka yang
tidak lain untuk meminang Fiyya buat anaknya yang satu fakultas dengan
Fiyya, dan keluarga Fiyya pun sepakat. Kakak pun pasti mengenalnya,
Karena kemarin kami sepakat untuk ngundang kakak untuk ngisi khutbah
nikahnya.
Iya, namanya Dudung Ramdhani, adik kelas kakak.
Kak, fiya mohon maaf, maaf.. dan maaf….
Tak kuasa Rizal untuk terus membaca surat itu. Bukan hanya perasaan
kecewa yang menyelimuti hatinya tapi juga perasaan malu dan perasaan
bersalah. Pikiranya makin runyem, apalagi mengingat undangan khutbah
nikah tersebut.
*****
“tet….. tet…….tet…….” bunyi Hp dari saku Alfi.
“waalaikum salam… Alfi disini ”
Terdengar samar pembicaraan Alfi di telepon, entah ada apa, cuman sebuah
rona kesedihan yang tergambar di muka Alfi menandakan kekhawatiran.
“ada apa akh ?” tanya Rizal yang waktu itu kebetulan bersama Alfi, setelah melihat Alfi menutup Handphonya
“kita harus segera ke rumah sakit, Dudung di ruang UGD” jawab Alfi cemas
“emang kenapa, ada apa dengan akhi Dudung ?” tanya Rizal penasaran
“katanya sepulang dari ngisi dauroh, sebuah bus yang dikemudikan oleh
supir mabok menabrak sepeda motor yang ditumpanginya.”Alfi mencoba
menjelaskan.
******
Jarum jam sudah menunjukan jam sepuluh malam, Dudung sudah mulai
siuman namun setiap kali ditanya tak satu hurup pun keluar dari
mulutnya. Rasa cemas begitu terlukis di wajahnya yang sayu, rona
mukanya menggambarkan seorang yang tak punya harapan, apalagi ketika
pandangan matanya tertuju ke arah kedua kakinya yang sudah diamputasi,
air matanya mengalir lebih deras.
“Bu.. Pak..” panggil Dudung mulai bicara
“iya nak …” jawab ibunya lembut
“bu… gimana acara pernikahan Dudung besok pagi ? jangan di batalkan yah,
biar semuanya berjalan apa adanya. Namun, ada satu permintaan buat
acara besok pagi ”
“nak engkau tak usah memikirkan itu dulu, sekarang istirahatlah, ” potong ibunya
“nggak bu Dudung tak mau mengecewakan keluarga Fiyya yang sudah siap
dari kemarin-kemarin. Bu, Dudung barusan bertemu dengan kakek, terus
katanya besok sore bakal ngajak Dudung ke rumahnya yang baru” lanjut
Dudung
” udah nak jangan kau teruskan …. jangan bikin ibu makin takut….” pinta
sang ibu sambil terus meneteskan air mata mengingat ayahnya yang
meninggal 7 bulan yang lalu. ” nggak bu Dudung serius, Dudung minta satu
permintaan, Dudung pingin posisi Dudung besok ada yang gantiin” ungkap
Dudung.
****
“saya terima nikahnya Hafiyya Ria Maryam putri bapak soleh kepada
saya dengan mas kawin 10 gram emas, berikut seperangkat alat sholat
dibayar kontan” sahut Rizal lancar menimpali omongan sang petugas KUA.
“alhamdulillah…” ungkap sang petugas “sekarang Muhammad Rizal resmi menjadi suami Hafiyya Ria Maryam.” Lanjutnya menegaskan.
Setelah akad selesai, segera Rizal mengajak Fiyya untuk menemui Dudung
di rumah sakit. Rasa bahagia yang biasanya menyelimuti para pengantin
baru, saat ini tidak begitu bisa dinikmati oleh kedua pasangan. Rasa
cemas dan dan puluhan rasa lainya seolah melarang rasa bahagia untuk
muncul menampakn diri..
“assalamualikum ” sapa Rizal sambil membuka pintu kamar Dudung
diikuti Fiyya yang datang mengikuti Rizal dibelakangnya. Sunyi, sepi.
Tak ada satu suara pun yang menyahut, hanya tangisan-tangisan ditahan
dan rona wajah-wajah bahagia yang dipaksakan yang menyapa kedua
mempelai. Di atas kasur Dudung terbaring tak berdaya, matanya tertutup
seperi tidur, jarum impus yang subuh tadi masih menempel di tanganya
sudah tak terlihat lagi.
Segera Rizal hampiri Dudung “akhi … akh, permintaan antum telah kami
laksanakan” coba antum buka mata antum dan lihatlah kami ” lanjut Rizal ”
akh … lihat kami ” nada Rizal makin pelan, butiran air mata bercucuran
membasahi tangan Dudung yang digenggamnya. “akh…. jawab ana….? atau
antum menyesal dengan keputusan antum, menyuruh ana duduk di posisi
antum hari ini” ungkap Rizal.
Keluarga dan sahabat Dudung yang dari tadi menyaksikan kejadian itu
hanya bisa diam seribu bahasa tak ada satu pun yang berani angkat
bicara.
Secara tak sengaja rizal menoleh ke sekuntum bunga yang terlihat
indah diatas meja pinggir kasur dudung. Terlihat sebuah kertas putih
tergantung di bunga itu. Dari kejauhan Rizal mencoba untuk membacanya.
Buat sahabatku Rizal dan Hafiyya (selamat menempuh hidup baru)
pengantin….maafkan ana dan terima kasih telah mengabulkan permintaan
ana. ana harap antum berdua ridha. Akhy ! berikanlah cintamu sepenuhnya
pada Fiyya agar ia pun memberikan cintanya sepenuhnya kepadamu. Ukhty!
rencanakanlah cintamu buat Rizal seperti cinta yang telah kau rencanakan
buatku.Wassalam. Sahabatmu Dudung BARAKALLOHU LAKA WA BARAKA ALAIKA WA
JAMA’A BAINAKUMA FI KHOIRIN.
Sumber : http://cerpenmu.com