Jumat, 15 Februari 2013

KISAH PERJUANGAN SEORANG IBU


Kisah ini adalah kisah nyata sebuah keluarga yang sangat miskin, yang memiliki seorang anak laki-laki. Ayahnya sudah meninggal dunia, tinggalah ibu dan anak laki-lakinya untuk saling menopang. Ibunya bersusah payah seorang diri membesarkan anaknya, dan disaat itu kampung tersebut belum memiliki listrik. Saat membaca buku, sang anak tersebut diterangi sinar lampu minyak, sedangkan ibunya dengan penuh kasih menjahitkan baju untuk sang anak.

Saat memasuki musim gugur, sang anak memasuki sekolah menengah atas.Tetapi justru saat itulah ibunya menderita penyakit rematik yang parah sehingga tidak bisa lagi bekerja disawah. Saat itu setiap bulannya murid-murid diharuskan membawa tiga puluh kg beras untuk dibawa kekantin sekolah. Sang anak mengerti bahwa ibuya tidak mungkin bisa memberikan tiga puluh kg beras tersebut. Dan kemudian berkata kepada ibunya:
" Ma, saya mau berhenti sekolah dan membantu mama bekerja disawah".

Ibunya mengelus kepala anaknya dan berkata : "Kamu memiliki niat seperti itu mama sudah senang sekali tetapi kamu harus tetap sekolah. Jangan khawatir, kalau mama sudah melahirkan kamu, pasti bisa merawat dan menjaga kamu. Cepatlah pergi daftarkan kesekolah nanti berasnya mama yang akan bawa kesana".

Karena sang anak tetap bersikeras tidak mau mendaftarkan kesekolah, mamanya menampar sang anak tersebut. Dan ini adalah pertama kalinya sang anak ini dipukul oleh mamanya. Sang anak akhirnya pergi juga kesekolah. Sang ibunya terus berpikir dan merenung dalam hati sambil melihat bayangan anaknya yang pergi menjauh.

Tak berapa lama, dengan terpincang-pincang dan nafas tergesa-gesa Ibunya datang kekantin sekolah dan menurunkan sekantong beras dari bahunya. Pengawas yang bertanggung jawab menimbang beras dan membuka kantongnya dan mengambil segenggam beras lalu menimbangnya dan berkata :

" Kalian para wali murid selalu suka mengambil keuntungan kecil, kalian lihat, disini isinya campuran beras dan gabah. Jadi kalian kira kantin saya ini tempat penampungan beras campuran".
Sang ibu ini pun malu dan berkali-kali meminta maaf kepada ibu pengawas tersebut.

Awal Bulan berikutnya ibu memikul sekantong beras dan masuk kedalam kantin. Ibu pengawas seperti biasanya mengambil sekantong beras dari kantong tersebut dan melihat. Masih dengan alis yang mengerut dan berkata:

"Masih dengan beras yang sama". Pengawas itupun berpikir, apakah kemarin itu dia belum berpesan dengan Ibu ini dan kemudian berkata : "Tak perduli beras apapun yang Ibu berikan kami akan terima tapi jenisnya harus dipisah jangan dicampur bersama, kalau tidak maka beras yang dimasak tidak bisa matang sempurna. Selanjutnya kalau begini lagi, maka saya tidak bisa menerimanya".

Sang ibu sedikit takut dan berkata : "Ibu pengawas, beras dirumah kami semuanya seperti ini jadi bagaimana?"

Pengawas itu pun tidak mau tahu dan berkata : "Ibu punya berapa hektar tanah sehingga bisa menanam bermacam-macam jenis beras?"

Menerima pertanyaan seperti itu sang ibu tersebut akhirnya tidak berani berkata apa-apa lagi.

Awal bulan ketiga, sang ibu datang kembali kesekolah. Sang pengawas kembali marah besar dengan kata-kata kasar dan berkata: "Kamu sebagai mama kenapa begitu keras kepala, kenapa masih tetap membawa beras yang sama. Bawa pulang saja berasmu itu!".

Dengan berlinang air mata sang ibu pun berlutut di depan pengawas tersebut dan berkata: "Maafkan saya bu, sebenarnya beras ini saya dapat dari mengemis".

Setelah mendengar kata sang ibu, pengawas itu kaget dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sang ibu tersebut akhirnya duduk diatas lantai, menggulung celananya dan memperlihatkan kakinya yang sudah mengeras dan membengkak. Sang ibu tersebut menghapus air mata dan berkata: "Saya menderita rematik stadium terakhir, bahkan untuk berjalan pun susah, apalagi untuk bercocok tanam. Anakku sangat mengerti kondisiku dan mau berhenti sekolah untuk membantuku bekerja disawah. Tapi saya melarang dan menyuruhnya bersekolah lagi." Selama ini dia tidak memberi tahu sanak saudaranya yang ada dikampung sebelah. Lebih-lebih takut melukai harga diri anaknya.

Setiap hari pagi-pagi buta dengan kantong kosong dan bantuan tongkat pergi kekampung sebelah untuk mengemis. Sampai hari sudah gelap pelan-pelan kembali kekampung sendiri. Sampai pada awal bulan semua beras yang terkumpul diserahkan kesekolah.

Pada saat sang ibu bercerita, secara tidak sadar air mata Pengawas itupun mulai mengalir, kemudian mengangkat ibu tersebut dari lantai dan berkata: "Bu sekarang saya akan melapor kepada kepala sekolah, supaya bisa diberikan sumbangan untuk keluarga ibu."

Sang ibu buru- buru menolak dan berkata: "Jangan, kalau anakku tahu ibunya pergi mengemis untuk sekolah anaknya, maka itu akan menghancurkan harga dirinya. Dan itu akan mengganggu sekolahnya. Saya sangat terharu dengan kebaikan hati ibu pengawas, tetapi tolong ibu bisa menjaga rahasia ini."

Akhirnya masalah ini diketahui juga oleh kepala sekolah. Secara diam- diam kepala sekolah membebaskan biaya sekolah dan biaya hidup anak tersebut selama tiga tahun. Setelah Tiga tahun kemudian, sang anak tersebut lulus masuk ke perguruan tinggi qing hua dengan nilai 627 point. Dihari perpisahan sekolah, kepala sekolah sengaja mengundang ibu dari anak ini duduk diatas tempat duduk utama. Ibu ini merasa aneh, begitu banyak murid yang mendapat nilai tinggi, tetapi mengapa hanya ibu ini yang diundang. Yang lebih aneh lagi disana masih terdapat tiga kantong beras.

Pengawas sekolah tersebut akhirnya maju kedepan dan menceritakan kisah sang ibu ini yang mengemis beras demi anaknya bersekolah. Kepala sekolah pun menunjukkan tiga kantong beras itu dengan penuh haru dan berkata :

"Inilah sang ibu dalam cerita tadi." Dan mempersilakan sang ibu tersebut yang sangat luar biasa untuk naik keatas mimbar.

Anak dari sang ibu tersebut dengan ragu-ragu melihat kebelakang dan melihat gurunya menuntun mamanya berjalan keatas mimbar. Sang ibu dan sang anakpun saling bertatapan. Pandangan mama yang hangat dan lembut tertuju kepada anaknya. Akhirnya sang anak pun memeluk dan merangkul erat ibunya dan berkata: "Oh Mamaku……"







Sumber : http://www.facebook.com/sahabatkucpm

Senin, 11 Februari 2013

OH BUNDA

oleh : Alief Murobby


Rintik-rintik hujan akhirnya mulai turun, membasahi kota Jogja. Mendung yang sedari tadi menggelayut, kini mulai memuntahkan isinya. Beberapa pengendara motor mulai menepikan kuda besi mereka untuk sekedar berteduh ataupun memakai jas hujan. Dinginnya air hujan rupanya tak mampu mendinginkan panasnya hati Ava. Tanpa memedulikan tangannya yang mulai kebas akibat sengatan hawa dingin dan bajunya yang basah kuyup, Ava terus menggeber Astrea Grand-nya menuju kearah barat daya, tepatnya menuju kearah alun-alun utara keraton. Ditebasnya jalanan dengan sangat lincah, tak peduli dengan orang-orang yang mengumpat saat terkena cipratan air dari motornya. Pikirannya sangat kalut. Lalu tanpa diinginkannya, Ava kembali mengingat peristiwa yang membuat hatinya sangat marah itu.


***
“ Bun, uang buat bayar kuliah semester ini mana?” tanya Ava pada ibunya yang sedang menghitung uang hasil penjualan nasi pecel yang dijualnya tiap fajar di stasiun Lempuyangan. Raut muka ibunya langsung berubah. Gelisah.

“ Bunda cuma dapet segini, Le,” ucap Bunda seraya menyerahkan seluruh uang yang tadi dihitungnya. Ava agak kaget begitu menghitungnya kembali. Cuma dua ratus ribu lebih sedikit.

“ Bunda ini gimana sih? Kan aku udah minta sejak seminggu yang lalu, masak cuma segini? Kalau cuma segini, jelas nggak akan cukup.” Nada suara Ava mulai meninggi. Warna wajahnya pun mulai memerah, pertanda emosinya mulai tersulut. Bunda tahu persis hal itu. Insting seorang ibu, mungkin.

“ Tapi Bunda hanya punya uang segini, Le. Nanti kalau dagangan Bunda laris, uangnya buat kamu semua. Bu Nugroho, tetangga kita yang kaya itu, juga bersedia meminjami ibumu ini uang. Ndak usah kuatir,” ucap Bunda dengan logat khas Jogja, sembari mengelus kepala anak laki-lakinya itu, berusaha meredam emosinya. Dengan kasar, Ava menyentakkan tangan ibunya, lalu berteriak marah.

“ Bunda yang cuma tamat SMP tau apa?! Kalo besok aku nggak bayar biaya kuliah semester ini, aku bisa di-DO tau!” bentak Ava keras. Saking kerasnya, Nina adiknya, sampai keluar dari kamarnya.

“ Kakak apa-apaan sih?” tanya Nina.

Ava menjawabnya dengan ketus,” Diem kamu, anak kecil!”

“ Kakak tuh yang diem!” Emosi Nina ikut tersulut. “ Bicara sama orangtua tuh yang sopan. Malah dibentak-bentak. Dasar durhaka!”

Plak! Sebuah tamparan melayang ke pipi Nina.

“ Jaga mulutmu!” teriak Ava.

“ Kakak tuh yang jaga mulut!” Nina langsung membalas sambil memegangi pipi kirinya yang memerah akibat tamparan Ava. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Sang Bunda langsung memeluk anak perempuannya. Dia juga mulai menangis.

“ Udah, udah. Jangan berantem,” kata Bunda lirih. Ava langsung beranjak pergi meninggalkan kedua perempuan itu. Sang Bunda hanya berucap pelan, berulang-ulang.

“ Astaghfirullah.”

Tak terasa, Ava telah sampai di alun-alun utara. Suasana sore itu tak terlalu ramai, hanya ada beberapa lapak pedagang yang buka. Ava memilih duduk di salah satu bangku yang kosong, tepat dibawah pohon mahoni untuk mengeringkan pakaiannya yang basah dan menghilangkan sisa-sisa kejengkelan yang masih mengndap di dasar hatinya. Beberapa pengamen jalanan memainkan alat musik mereka. Ada gitar, harmonika, kendang, dan biola. Sederhana namun tetap nikmat untuk didengar. Tiba-tiba seorang violin jalanan duduk disampingnya. Kulitnya hitam, tapi raut wajahnya jenaka.

“ Mau request lagu, Mas? Cuma seribu per lagu,” tawar si violin. Ava merogoh sakunya dan menemukan uang dua ribu rupiah. Disodorkannya uang itu pada si violin.

“ Maen lagu apa aja, yang penting enak di telinga. Kembaliannya ambil aja.”

Si violin langsung bersiap mengambil nada awal. Saat biola mulai digesek, Ava kaget. Dia tahu persis lagu itu. Tak disangka, violin itu memainkan lagu bunda karya Melly Goeslaw. Tanpa sadar, Ava ikut bernyanyi mengiringi alunan lagu.

Kata mereka diriku slalu dimanja
Kata mereka diriku slalu ditimang

Air mata Ava keluar tanpa mampu ditahannya. Ia terus menangis hingga si violin selesai membawakan lagunya.

“ Kenapa, Mas? Terharu, ya? Lha wong keturunan Mozart, je! Hehehe,” canda si violin.

“ Mas sih enak masih punya motor,” lanjutnya. “ Punya rumah, punya keluarga. Pasti enak. Nggak kayak saya. Hidup pindah-pindah. Rumah nggak punya. Orangtua nggak tau dimana.”

Violin itu terdiam sejenak. “ Tapi walaupun gitu, saya tetap bersyukur kok. Syukur masih bisa makan. Syukur masih bisa maen biola. Syukur masih bisa hidup.”

Perkataan pengamen itu membuat Ava tersadar. Apa yang telah kulakukakan? batin Ava. Padahal Bunda telah bersusah payah menghidupiku, tapi aku malah membentaknya. Aku bahkan tega menampar adikku sendiri! Dasar bodoh! Ava merutuki kebodohannya. Dia menyesal, sangat menyesal telah mengasari ibunya dan menampar adik satu-satunya.

Violin itu berkata lagi,” Saya pernah didawuhi seorang Kyai. Beliau berkata,’ Untuk urusan dunia, jangan lihat ke atas, tapi lihatlah ke bawah. Lihatlah orang yang hidupnya lebih susah dari kita, supaya kita bersyukur sudah diberi nikmat lebih daripada orang lain.’ Gitu, Mas. Lho, lho, Mas. Mau kemana? Pulang?” tanyanya begitu melihat Ava bergegas menyalakan motornya. Ava ingin segera pulang ke rumah. Ke pelukan bunda.

Si violin menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kebingungan. “ Apa aku salah bicara, ya?”

Saat Ava telah sampai dirumahnya yang berada di kawasan Danurejan, dilihatnya sang Bunda sedang duduk di beranda. Nina duduk disamping ibunya dengan muka ketus. Begitu melihat ank laki-lakinya pulang, wanita itu segera beranjak mendekatinya. Senyum terpatri di wajah keibuannya.

“ Alhamdulillah Le, kamu sudah pulang. Udah Bunda bilang, soal biaya kuliah, kamu nggak usah kuatir.” Sambil bicara, Bunda merogoh kantong bajunya lalu menarik sebuah kalung emas. Bunda tersenyum lagi.

“ Nanti kalung ini akan Bunda gadaikan. Uangnya buat kamu semua.”

Mendengarnya, Ava semakin merasa dirinya adalah anak yang sangat durhaka. Kalung itu adalah mas kawin yang diberikan ayahnya saat menikahi ibunya dulu. Kalung yang sangat disayangi ibunya. Ia sering melihat ibunya menangis sambil memeluk kalung itu, mungkin karena teringat pada ayah yang telah lama meninggal.

“ Bunda, pokoknya jangan pernah menjual kalung ini. Soal biaya kuliah, biar nanti Ava cari sendiri.” Ava berkata sambil menahan air matanya. Bunda menatapnya dengan bingung.

“ Lho kok…” Tanpa memberi kesempatan pada Bunda untuk bertanya, Ava memeluknya dengan sangat erat.

“ Maafin Ava, Bunda,” ucap Ava lirih, lalu ia menangis dalam pelukan ibunya. Bunda hanya tersenyum kecil, lalu berujar sambil mengelus kepala Ava.

“ Ndak papa, ndak papa. Kamu ndak pernah punya salah sama Bunda. Yang penting, minta maaf dulu sama adekmu. Tadi dia nangis terus.” Ava melepaskan diri dari sang bunda, lalu berjalan menuju Nina yang terus menatapnya. Ava berlutut di depan adiknya.

“ Maafin kakak, ya?” Nina memandang kedua bola mata Ava dengan lekat, lalu tersenyum.

“ Apologies accepted,” jawab Nina, memaafkan kakaknya. Ava lalu meraih Nina ke dalam pelukannya. Sang Bunda lalu memeluk kedua anaknya dengan sayang. Saat itu Ava bersumpah, dia takkan pernah lagi membiarkan ibu dan adiknya menangis. Dia akan membahagiakan mereka, apapun yang terjadi. Tak ada yang dapat menghentikannya. Tak ada!


Sumber : http://cerpen.gen22.net

KETENTUAN SANG PENCIPTA

“ibu kok nangis !” sapa Rizal yang melihat butiran embun di pipi sang ibunda. “ada apa bu ?” lanjutnya sambil mendekati ibunda yang duduk di dekat telepon. “apa ada hal yang menyedihkan sehingga membuat ibu harus menangis” tanyanya lagi .
” A … bantuian Ririn donk bikin acara buat seminar bulan depan di kampus !” pinta adik Rizal tiba tiba . ” A.. kok diam aja sih “sambil mendekati Rizal yang sedang bersimpuh di depan ibunya.
“hus…. diem… ibu lagi sedih nih..” ungkap Rizal sembari meletakkan telunjuknya di bibir sang adik ” ibu sedih …” tanya Ririn ” bu kenapa … kok sedih ” lanjutnya sambil duduk di sebelah kanan sang bunda.
Mendengar pertanyaan yang bertubi-tubi sang ibu mulai mengangkat kepalanya dan tersenyum ” ibu tidak sedih kok, tapi bahagia. Tadi barusan ibu dapat kabar kalau Rahma sepupu kalian sudah melahirkan” lanjutnya dengan air mata terus mengalir.” Tapi kenapa sampai menangis gitu bu …” tanya Rizal penasaran.
“iya bu kenapa … kayaknya ibu menyembunyikan sesuatu !” timpal Ririn manja
“ibu hanya sedih memikirkan nasib ibu…. ibu kadang berpikir kayaknya ibu tak akan mengalami menggendong cucu seperti ayah kalian.” Ungkapnya sambil mengenang kematian suami tercinta 3 tahun lalu.
Puluhan tiang listrik serasa jatuh serempak di kepala Rizal, ia sadar kalau Ucapan tersebut bukan sekedar ucapan biasa, tapi mengandung ma’na, dan sindiran baginya, karena ia anak pertama dan sudah berkepala tiga namun tak kunjung menikah.
Hening suasana yang tercipta tak ada satu pun yang berani angkat bicara apalagi Rizal yang merasa amat berdosa. Air mata sang ibu yang makin tak bisa di bendung, hanya membuat kesunyian bertambah sepi. Ririn yang biasa manja dan cascescos hanya bisa diam sambil mengeringakan luapan air mata sang ibu dengan sapu tangan..
“bu… Rizal minta maaf !, Rizal sadar … dan tahu apa maksud ucapan ibu. Tapi….” lanjutnya terbata-bata
“tapi kenapa zal, kamu takut karena kamu belum kerja dan belum berpenghasilan. Nak, kalau itu yang jadi alasan, kamu jangan kuatir karena uang pengsiunan ayahmu masih cukup untuk memberi makan 2- 3 orang lagi” sambil menahan tangis
“ia .. Aa jangan kuatir yang penting Aa bisa bahagiakan ibu, lagian kata Aa juga kan rizqi itu Allah yang ngatur ” sambung Ririn
“sebenarnya bukan hanya itu masalahnya …. ” sahut Rizal
“Nak, apapun alasanmu, itu sebenarnya tak masuk akal ” potong sang ibu
“kalau alasanya karena belajar belum beres, menikah justru akan memberikan kamu semangat untuk lebih bertanggung jawab akan kewajiban kamu selaku seorang lelaki, Nak ibu mohon! ibu kadang sedih kalau denger tetangga bertanya.. kapan sih nak Rizal menikah ?. nak, ibu mohon…. !” lanjutnya sambil terus menangis.
Tangisan sang ibu kali ini betul-betul membuat Rizal tak berkutik, tak satu hurup pun keluar dari mulutnya. Diam, sepi, sunyi. Hanya tangisan datar sang ibu yang menghiasi kensunyian
“insya Allah, Rizal akan usahakan secepatnya. Tapi Rizal minta ibu untuk tidak sedih dan jangan pernah berhenti mendoakan Rizal ” ungkapnya
“nah gitu donk! ikhwan sejati, awas jangan lupa berdoa dan istikhoroh. Lagian kan nggak etis, masa Ririn harus ngedahului ” Ririn. Mencoba menghibur
******
Pagi jum’at itu cukup indah, perlahan-lahan sinar mentari mulai menyelimuti seluruh alam. Seperti biasa, Rizal duduk di kursi santai depan rumah sambil memandang ke halaman yang tidak begitu besar. Baginya hari jum’at merupakan hari yang paling indah. Sehingga ia lebih memilih kumpul bersama keluarga dibanding menyibukkan dirinya dengan kegiatan.
“A, gimana do’a dan Istikhorohnya udah kan ?” tanya Ririn mengejutkan pandangan kosongnya. ” Udah… tapi nggak ada tanda tuh …!” jawabnya singkat
“masak sih, di mimpi gimana, barangkali lihat sesuatu yang bisa dijadikan isyarat ?”.
“ada sich! Namun aa nggak yakin kalu itu isyarat. Aa, semalam bermimpi ketemu kamu di jalan, terus kamu perkenalkan temen kamu ke Aa, tapi aneh wajahnya samar nggak jelas yang ada cuman jilbab ungu berlukiskan bunga dan kerudung hitam besar”
“terus ada isyarat lainya tidak ?”
“nggak ada tuh, tapi kayaknya Ririn kenal banget soalnya Ririn sambil sandaran segala ke dia”
Sejenak Ririn berpikir, Terkadang ia senyum sendiri seperti mendapat sebuah jawaban telunjuknya yang tak semanis permen loli ia jadikan mainan gigi-gigi depanya.
“wey …. jangan senyum-senyum sendiri donk … Aa takut nih ”
“emang Ririn hantu apa !” jawabnya kesel
“bukan AA takut hantu…tapi takut berkunjung ke rumah sakit jiwa!”
“ah … dasar !. eh A, kayaknya Ririn kenal orang itu ? ”
“ah yang bener, siapa ? ”
“Mbak Fiyya, yang sebulan kemarin menyatakan cintanya ke Aa dan siap untuk menjalin rumah tangga ke Aa!. Masa lupa sih, kan Ririn yang ngasih suratnya ke Aa waktu malam itu ”
Sebuah bayangan muncul di benak Rizal, bayangan sebulan lalu ketika ia mendapat sepucuk surat dari seorang akhwat jurusan akuntansi tahun 3, menawarkan dirinya untuk dinikahi.
“A, udah langsung ajah….Ririn yakin kok kalau dia orangnya”
“Urusan nikah itu bukan urusan sehari dua hari neng! Tapi seumur hidup, jadi kalau salah dalam tahap awal bakal sengsara seumur-umur” rizal menjelaskan.
” Aa. Ragu denganya karena belum kenal dekat ?”
“kalau iya, ngggak salah khan ? ”
“Aa pingin tahu apanya, tanya aja ke Ririn langsung, orang suka bareng terus kok!. Nih! Ririn kasih tahu, nama lengkapnya Hafiyya Ria Maryam, lulusan pesantren, mantan ketua LDK putri di kampus, pinter, cantik, lembut, keibuan, suka ngisi daurah, sederhana dan lain-lain, dan sebagainya, dan kawan-kawan ”
“pokoknya tak usah khawatir … insya Allah 75 % syarat wanita sholehah telah terpenuhi … kalau alasanya Aa tidak cinta, jangan terlalu dikhawatirkan karena cinta yang datang setelah menikah akan lebih langgeng.” Sambungnya menyemangati
“kata siapa ….?”
“masa dah pikun sich? kan Aa sendiri yang ngomong waktu nyeramahin Ririn tentang pacaran. Gimana mau nggak … kesempatan itu tak datang dua kali lho”
“emang Aa cocok gitu sama dia”
“pokoknya jawab dulu iya apa tidak, soal kecocokan itu nomor 3 ”
“kecocokan kok nomor tiga ..?”
“A, tidak semua kecocokan itu berasl dari sebuah kesamaan, justru kecocokan akan lebih terasa ketika timbul dari sebuah perbedaan, karena ketika timbul perbedaan diantara dua, akan ada saling pengertian yang menghasilkan saling menutupi dan lahirlah kecocokan.” Ririn mencoba menceramahi
” udah pokoknya tinggal bilang yes or not !” pintanya
“khan bukan ibu aja yang pingin gendong cucu Ririn juga pingin gendong ponakan lho..” sambungnya sambil tersipu.
“ayo donk cuman bilang iya aja kok sulitnya minta ampun…” pinta Ririn memohon
“ntar Ririn bantu ” lanjutnya kesal karena sang kakak tidak juga menyahut.
“iya iya, tapi Aa minta satu syarat ..!”
“apa syaratnya ?”
“jangan bilang dulu ke ibu nyah soalnya ini masih dalam tahap pertama pokoknya sercuit antara kau dan aku OK !”
” OK Bos … pokoknya beres ”
*****
Ruangan itu emang kecil dan sederhana, tapi hal itu tak membuat para penghuninya males dengan kebersihan di dalamnya. Apalagi kesibukan mereka yang selalu jadi singa podium, yang secara tidak disadari kesibukan tersebut telah memberikan kekuatan untuk terus jadi singa yang disegani dan selalu menjadi contoh.
“Sekretariat Ikatan Remaja dan Pemuda Islam “. sebuah tulisan bercat biru dengan hurup besar menjadi penghias di halaman ruangan kecil itu..
“assalamualaikum ” sapa rizal kepada penghuni ruangan .
“waalakium salam ..” jawab seluruh penghuni kompak.
” akh … tumben telat kemana aja…” tanya amri
“afwan akh, tadi ana ada perlu dulu sedikit. Emang ada apa ?”
“enggak, tadi ada dudung kesini cuman karena kelamaan nunggu antum akhirnya ia pulang lagi, terus ia pesen supaya ngasih surat ini ke antum.” Sembari ngasih amplop
“Kak Rizal ana tunggu kedatangan antum hari jum’at depan jam 08.00 pagi untuk ngisi khutbah nikah di pernikahan ana ” bunyi isi surat tersebut.
“alhamduluillah …. ” ungkapan syukur keluar dari bibir Rizal
“ada apa akh ?” tanya Denis dan Amri kompak yang dari tadi di depan komputer “Dudung ngasih kabar kalu 6 hari dia akan menikah terus nyuruh ana tuk ngisi khutbah nikah di pernikahanya!”
” kok bilang alhamdulillah, honornya gede yah..!” tanya Amri tersenyum
“bukan itu, ana cuman salut & bangga dengan tekadnya untuk nikah padahal dulu ia adik kelas ana”
“wah gawat kedahuluan lagi donk !” ungkap Denis sambil tertawa
“bukan kedahuluan tapi didahului ” ungkap Alfi yang dari tadi serius baca Sabili
” maksud antum apa ?” tanya rizal
“urusan nikah itu kalau kita sudah pantas disebut Syab, hanya membutuhkan satu hal yaitu keberanian, keberanian untuk hidup berumah tangga sekaligus keberanian untuk menghadapi ratusan problematika baru yang ada di dalamnya”
“tapi kan taqdir Allah juga menentukan!”
“memang betul, tapi kalau antum diam seribu bahasa tak mau melangkah dan berusaha, sampai kapan pun antum nggak bakalan menikah. Antum jangan berpikir kalau nikah itu bagaikan hujan yang bakal turun tanpa dipinta dan bagaikan angin yang bakal kita dapat tanpa bersusah payah dulu. Perkembangan dunia yang tanpa arah, telah membuat manusia kebingungan terutama para pemuda. Secara tidak disadari arah yang tak jelas ini telah menanam sebuah rasa takut di dalam dada para pemuda. Takut untuk melakukan sebuah kebaikan. Kebaikan yang bukan hanya untuk orang lain, malah untuk dirinya sendiri pun bingung. Dan diantara yang termasuk di dalam kebaikan tersebut adalah menikah”
Ratusan tiang listrik terasa kembali jatuh tepat di kepalanya, ungkapan Alfi betul betul telah memojokan dirinya.
“dan antum sepertinya termasuk pemuda yang tertanam ketakutan tersebut. kami kadang heran dan bingung dengan sikap antum dalam hal ini. Antum seolah menganggap kalau hal ini bukan sebuah pondasi dalam da’wah. Padahal ana yakin kalau antum lebih tahu, bagaimana posisi dan kedudukanya dalam Islam terutama dalam da’wah.akh, kami mohon pikirkanlah hal ini ” tambah Alfi kesal yang dari dulu selalu menasihatinya untuk segera menikah.
hanya kebisuan yang menghias wajah Rizal, tak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya untuk membantah ucapan tersebut. Ia sadar akan hal itu, apalagi mengingat umurnya yang sudah kepala tiga terlebih posisinya yang selalu jadi senior.
Kembali terbayang wajah sang bunda yang memintanya untuk segera menikah dan wajah sang adik yang kadang memanggilnya dengan Telmi ; telat menikah.
*****
“Tok.. Tok.. Tok.. A boleh ganggu tidak ” suara Ririn dari luar kamar membuyarkan konsentrasi Rizal yang dari tadi di depan komputer.
“oh… silahkan masuk tuan putri, nggak dikunci lho!”
segera Ririn masuk kamar lalu duduk di atas kasur samping meja komputer.
“ada apa Rin, tumben kayaknya serius banget …” tanya Rizal sambil pandangan tetap ke arah komputer
“gini A !” Ririn mulai bicara
“gimana ?” tanya Rizal.
“lihat sini donk, masa ikhwan sejati kalau ngomong belakangin orang ” Ririn kesal
“khan godul bashor ” guyonya
“jadi Aa dah anggap Ririn bukan adik kandung lagi yah ? khan Ririn muhrim, masa Ririn harus ceramah dulu tentang muhrim sich !”
“baik nyonya maaf ! jadi gimana?” sambil memalingkan mukanya dari arah komputer.
“gini A, hari sabtu kemarin setelah kesepakatan kita, Ririn ketemu mbak Fiyya terus kita ngobrol banyak tentang kegiatan dan yang lainya, termasuk masalah Aa dan keinginan Aa untuk menikahinya. Tapi waktu itu mbak Fiyya bilang kasih mbak waktu yah untuk berpikir. Nah terus, tadi Ririn ketemu lagi sama beliau lalu ngasih amplop ini katanya buat Aa” sembari menyerahkan amplop berwarna merah jingga.
“Aa baca, resapi ma’nanya lalu nanti kasih tahu Ririn yah? Ririn mau mandi dulu belum mandi nih dari siang” ungkap Ririn sambil berlalu meninggalkan sang kakak.
*****
kak Rizal …. ribuan macam perasaan, saat ini menyelimuti hati Fiyya, di satu sisi Fiyya senang, bahagia, gembira karena setelah sekian lama menunggu, kerasnya batu karang yang menggumpal di hati kakak akhirnya hancur juga, Fiyya harap perasaan yang saat ini menyelimuti hati kak Rizal bisa dipertahankan atau jangan sampai ada batu lain yang menggantikan kedudukan batu yang telah hancur tadi.
Kak Rizal ….. selain perasaan bahagia yang hinggap di hati Fiyya, Fiyya pun sedih, kecewa dan marah. Kesedihan yang jauh lebih besar dari rasa bahagia yang menyelimuti hati ini. Iya …. dan memang lebih besar lagi. Fiyya sedih kenapa nggak dari dulu kak Rizal mengatakan apa yang saya dengar dari Ririn, kenapa nggak dari dulu Aa menyatakan apa yang Ririn nyatakan pada Fiyya, kenapa nggak dari dulu…. kenapa… kak… kenapa?
Kak … Fiyya bingung apa yang harus Fiyya katakan kepada kakak, Fiyya takut ucapan Fiyya akan membuat ponggahan batu baru yang menutupi hati kakak, Namun Fiyya sadar kalau bagi Fiyya nggak ada pilihan lain selain mengungkapkan sejujurnya kepada kakak, karena Fiyya yakin kedewasaan Kakak akan lebih menuntun kakak untuk berbuat yang lebih bijak.
Kak ….. tepat hari jum’at kemarin, satu hari sebelum adik Ririn menceritakan semuanya. Sebuah keluarga datang ke rumah Fiyya, setelah sedikit basa basi akhirnya mereka mengutarakan kedatangan mereka yang tidak lain untuk meminang Fiyya buat anaknya yang satu fakultas dengan Fiyya, dan keluarga Fiyya pun sepakat. Kakak pun pasti mengenalnya, Karena kemarin kami sepakat untuk ngundang kakak untuk ngisi khutbah nikahnya.
Iya, namanya Dudung Ramdhani, adik kelas kakak.
Kak, fiya mohon maaf, maaf.. dan maaf….
Tak kuasa Rizal untuk terus membaca surat itu. Bukan hanya perasaan kecewa yang menyelimuti hatinya tapi juga perasaan malu dan perasaan bersalah. Pikiranya makin runyem, apalagi mengingat undangan khutbah nikah tersebut.
*****
“tet….. tet…….tet…….” bunyi Hp dari saku Alfi.
“waalaikum salam… Alfi disini ”
Terdengar samar pembicaraan Alfi di telepon, entah ada apa, cuman sebuah rona kesedihan yang tergambar di muka Alfi menandakan kekhawatiran.
“ada apa akh ?” tanya Rizal yang waktu itu kebetulan bersama Alfi, setelah melihat Alfi menutup Handphonya
“kita harus segera ke rumah sakit, Dudung di ruang UGD” jawab Alfi cemas
“emang kenapa, ada apa dengan akhi Dudung ?” tanya Rizal penasaran
“katanya sepulang dari ngisi dauroh, sebuah bus yang dikemudikan oleh supir mabok menabrak sepeda motor yang ditumpanginya.”Alfi mencoba menjelaskan.
******
Jarum jam sudah menunjukan jam sepuluh malam, Dudung sudah mulai siuman namun setiap kali ditanya tak satu hurup pun keluar dari mulutnya. Rasa cemas begitu terlukis di wajahnya yang sayu, rona mukanya menggambarkan seorang yang tak punya harapan, apalagi ketika pandangan matanya tertuju ke arah kedua kakinya yang sudah diamputasi, air matanya mengalir lebih deras.
“Bu.. Pak..” panggil Dudung mulai bicara
“iya nak …” jawab ibunya lembut
“bu… gimana acara pernikahan Dudung besok pagi ? jangan di batalkan yah, biar semuanya berjalan apa adanya. Namun, ada satu permintaan buat acara besok pagi ”
“nak engkau tak usah memikirkan itu dulu, sekarang istirahatlah, ” potong ibunya
“nggak bu Dudung tak mau mengecewakan keluarga Fiyya yang sudah siap dari kemarin-kemarin. Bu, Dudung barusan bertemu dengan kakek, terus katanya besok sore bakal ngajak Dudung ke rumahnya yang baru” lanjut Dudung
” udah nak jangan kau teruskan …. jangan bikin ibu makin takut….” pinta sang ibu sambil terus meneteskan air mata mengingat ayahnya yang meninggal 7 bulan yang lalu. ” nggak bu Dudung serius, Dudung minta satu permintaan, Dudung pingin posisi Dudung besok ada yang gantiin” ungkap Dudung.
****
“saya terima nikahnya Hafiyya Ria Maryam putri bapak soleh kepada saya dengan mas kawin 10 gram emas, berikut seperangkat alat sholat dibayar kontan” sahut Rizal lancar menimpali omongan sang petugas KUA.
“alhamdulillah…” ungkap sang petugas “sekarang Muhammad Rizal resmi menjadi suami Hafiyya Ria Maryam.” Lanjutnya menegaskan.
Setelah akad selesai, segera Rizal mengajak Fiyya untuk menemui Dudung di rumah sakit. Rasa bahagia yang biasanya menyelimuti para pengantin baru, saat ini tidak begitu bisa dinikmati oleh kedua pasangan. Rasa cemas dan dan puluhan rasa lainya seolah melarang rasa bahagia untuk muncul menampakn diri..
“assalamualikum ” sapa Rizal sambil membuka pintu kamar Dudung diikuti Fiyya yang datang mengikuti Rizal dibelakangnya. Sunyi, sepi. Tak ada satu suara pun yang menyahut, hanya tangisan-tangisan ditahan dan rona wajah-wajah bahagia yang dipaksakan yang menyapa kedua mempelai. Di atas kasur Dudung terbaring tak berdaya, matanya tertutup seperi tidur, jarum impus yang subuh tadi masih menempel di tanganya sudah tak terlihat lagi.
Segera Rizal hampiri Dudung “akhi … akh, permintaan antum telah kami laksanakan” coba antum buka mata antum dan lihatlah kami ” lanjut Rizal ” akh … lihat kami ” nada Rizal makin pelan, butiran air mata bercucuran membasahi tangan Dudung yang digenggamnya. “akh…. jawab ana….? atau antum menyesal dengan keputusan antum, menyuruh ana duduk di posisi antum hari ini” ungkap Rizal.
Keluarga dan sahabat Dudung yang dari tadi menyaksikan kejadian itu hanya bisa diam seribu bahasa tak ada satu pun yang berani angkat bicara.
Secara tak sengaja rizal menoleh ke sekuntum bunga yang terlihat indah diatas meja pinggir kasur dudung. Terlihat sebuah kertas putih tergantung di bunga itu. Dari kejauhan Rizal mencoba untuk membacanya.
Buat sahabatku Rizal dan Hafiyya (selamat menempuh hidup baru)
pengantin….maafkan ana dan terima kasih telah mengabulkan permintaan ana. ana harap antum berdua ridha. Akhy ! berikanlah cintamu sepenuhnya pada Fiyya agar ia pun memberikan cintanya sepenuhnya kepadamu. Ukhty! rencanakanlah cintamu buat Rizal seperti cinta yang telah kau rencanakan buatku.Wassalam. Sahabatmu Dudung BARAKALLOHU LAKA WA BARAKA ALAIKA WA JAMA’A BAINAKUMA FI KHOIRIN.



Sumber : http://cerpenmu.com